G dalam dekapan malam
Kusebut dia G, dengan perangainya yang istimewa, dalam balutan asa yang sering singgah, dia menyebut dirinya kabut. G sering merasa payah, gagal dari satu hingga ketiga, tapi aku tetap percaya, bahwa sebenar-benarnya rasa adalah ada, aku percaya kata ajaib yang menjadikannya gerbang pada keindahan, sebab bagiku G adalah monolog indah yang sering aku ucapkan, yang sering aku pamerkan. Meski pada akhirnya indah adalah sebuah senja, menghilang dalam dekapan malam, lalu terbius angin berhembus, dan— terluka. G memang hilang, namun aromanya masih terbayang, meski kini senjanya sudah dipeluk malam. Kemarin, mungkin bumi sudah tak bersahabat dengannya, dan kini didekapan malam dia lebih bisa menjadi dirinya sendiri. Mungkin kemarin, aku tak cukup mampu, namun cinta adalah keikhlasan. Rayu malam adalah kesenangan, membawanya lebih percaya, kemudian kini aku tau— sebenarnya rasa adalah melihatnya lebih bahagia.